Jakarta (Amperanews.com) – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat dengan Selat Hormuz menjadi titik utama perselisihan. Jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute distribusi minyak terbesar di dunia kini kembali berada dalam sorotan setelah muncul saling klaim, ancaman militer, serta pernyataan keras dari kedua negara. (Jumat, 24/07/2026).
Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah menghentikan tiga kapal tanker minyak yang disebut mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa berkoordinasi dengan otoritas Iran. Dalam pernyataannya, IRGC mengklaim salah satu kapal tanker mengalami ledakan dan terbakar, sementara dua kapal lainnya berbalik arah. Hingga kini belum terdapat konfirmasi independen mengenai rincian insiden tersebut.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran. Trump menyatakan AS akan merespons setiap serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dengan menyerang infrastruktur sipil tertentu di Iran.
Situasi semakin memanas setelah media Iran melaporkan adanya serangan rudal Amerika Serikat yang menghantam Pulau Larak di kawasan Selat Hormuz. Otoritas Iran menyebut investigasi masih dilakukan untuk memastikan lokasi, dampak, dan tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga menegaskan bahwa kondisi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum konflik berlangsung. Ia memperingatkan bahwa apabila Iran tidak dapat mengekspor minyak, maka negara-negara lain di kawasan juga tidak akan dapat melakukannya.
Perkembangan terbaru ini kembali meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap stabilitas kawasan Teluk Persia dan potensi gangguan terhadap rantai pasok energi global. (Rd)


















