Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaEdukasiHukumIndonesiaInternasional

Bukan Lagi Pekerja Berkeahlian Rendah, Menteri P2MI Ingin PMI Naik Kelas Jadi Talenta Global

2
×

Bukan Lagi Pekerja Berkeahlian Rendah, Menteri P2MI Ingin PMI Naik Kelas Jadi Talenta Global

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jakarta (Amperanews.com) – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menyambut baik arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto terkait peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya rencana penguatan pembelajaran bahasa asing sejak sekolah dasar.

Menurut Mukhtarudin, kemampuan berbahasa asing sejak usia dini dapat menjadi investasi jangka panjang untuk mempersiapkan generasi Indonesia menghadapi persaingan tenaga kerja internasional.

Example 300x600

Dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI 2026, Prabowo menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing. Pemerintah berencana mendorong pembelajaran sejumlah bahasa asing sejak tingkat SD, mulai dari Bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, Prancis hingga Rusia.

“Bahasa asing mutlak harus kita kuasai. Kita akan mulai bahasa asing untuk anak-anak kita mulai dari SD. SD kelas 1 mereka harus mulai bahasa asing,” ujar Prabowo, Jumat (14/8/2026).

Mukhtarudin menilai kebijakan tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk meningkatkan kualitas pekerja migran. Ia ingin paradigma pekerja migran bergeser dari dominasi pekerjaan berkeahlian rendah menuju tenaga profesional yang memiliki kompetensi dan mampu berkomunikasi secara global.

“Kita ingin bergerak dari tenaga kerja yang selama ini masih banyak berada pada pekerjaan berkeahlian rendah menuju tenaga profesional yang memiliki kompetensi dan mampu berkomunikasi secara global,” kata Mukhtarudin.

Bahasa Jadi Salah Satu Tantangan PMI

Mukhtarudin menyebut kemampuan bahasa masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pekerja migran Indonesia ketika bekerja di luar negeri.

Karena itu, pengenalan bahasa asing sejak usia dini dinilai dapat menjadi fondasi untuk membentuk SDM yang lebih siap memasuki lingkungan kerja internasional.

Namun, menurutnya, penguasaan bahasa saja tidak cukup. Calon pekerja migran juga harus memiliki keterampilan teknis, sertifikasi, kemampuan teknologi serta pemahaman terhadap budaya dan aturan di negara tujuan.

Mukhtarudin menilai persaingan tenaga kerja pada masa mendatang tidak hanya terjadi antarnegara, tetapi juga antarsumber daya manusia.

“Bapak Presiden memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa persaingan ke depan bukan hanya antarnegara, tetapi juga antar-SDM. Karena itu, kita harus menyiapkan anak-anak Indonesia agar sejak awal memiliki kemampuan yang dibutuhkan dunia,” ujarnya.

Kebutuhan Tenaga Kerja Global Jadi Peluang

Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara. Menurut Presiden, banyak negara kini mengalami kekurangan pekerja dan membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia.

Kebutuhan tersebut antara lain berada di sektor pariwisata, rumah sakit, keperawatan hingga caregiver.

Mukhtarudin menilai kondisi itu merupakan peluang besar yang harus dipersiapkan dengan peningkatan kualitas calon pekerja migran.

Ia menekankan pemerintah harus memastikan pekerja yang ditempatkan di luar negeri sesuai dengan standar dan kompetensi yang dibutuhkan negara tujuan.

“Pendidikan dan pelatihan harus mampu membaca kebutuhan pasar sehingga masyarakat tidak sekadar mendapatkan kesempatan bekerja, tetapi memperoleh akses terhadap pekerjaan yang sesuai kemampuan dan memiliki prospek yang baik,” katanya.

Karakter Ramah Harus Dibarengi Profesionalisme

Prabowo juga menilai masyarakat Indonesia memiliki karakter ramah, ulet dan sopan yang dapat menjadi modal dalam persaingan tenaga kerja global.

Mukhtarudin menyebut karakter tersebut merupakan modal sosial yang perlu diperkuat dengan kemampuan profesional.

Menurutnya, dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar keramahan. Disiplin, keterampilan teknis, komunikasi, produktivitas serta kepatuhan terhadap aturan juga harus menjadi bagian dari kualitas pekerja migran.

Selain peningkatan kompetensi, Mukhtarudin menegaskan aspek pelindungan PMI harus tetap menjadi prioritas. Penempatan pekerja migran harus dilakukan melalui jalur resmi, transparan dan sesuai regulasi.

“Ukuran keberhasilan kita bukan sekadar berapa banyak yang berangkat. Yang lebih penting adalah mereka berangkat secara resmi, bekerja sesuai kompetensi, mendapatkan haknya dan pulang membawa peningkatan kualitas kehidupan,” tegasnya.

PMI Didorong Jadi Talenta Global

Mukhtarudin mengatakan pemerintah ingin mengubah cara pandang terhadap pekerja migran Indonesia. PMI tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai tenaga kerja, tetapi sebagai talenta yang mempunyai keahlian dan daya saing internasional.

Pengalaman bekerja di luar negeri, kata dia, juga dapat menjadi modal pembangunan ketika PMI kembali ke Indonesia. Mereka diharapkan membawa keterampilan, pengalaman serta jejaring internasional yang dapat memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.

Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) berkomitmen mengawal agenda tersebut agar kebutuhan tenaga kerja global dapat dimanfaatkan secara optimal oleh Indonesia.

Dengan penguasaan bahasa asing, keterampilan, sertifikasi dan pelindungan yang memadai, PMI diharapkan mampu memperoleh posisi tawar lebih tinggi sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga. (Rd)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *