JAKARTA – ( AmperaNews.com ) – Menjelang sepak mula Super League Indonesia pada Jumat (8/8), Semen Padang dan PSM Makassar, berada di persimpangan nasib. Satu sudah bisa bernapas lega, satu lagi masih was-was akibat lilitan sanksi FIFA. Direktur Utama I.League Ferry Paulus mengungkapkan, Semen Padang telah menyelesaikan polemik dengan mantan pemainnya dan kini hanya menanti sistem automatic clearance dari FIFA agar bisa terbebas dari daftar larangan pendaftaran pemain baru.
“Yang Semen Padang itu sudah menyelesaikan dan sudah juga disampaikan kepada FIFA. Biasanya perlu beberapa hari untuk automatic clearance, maksimal empat hari kerja. Harusnya dalam waktu dekat sudah beres,” ujar Ferry, Rabu (7/8). Sementara itu, PSM Makassar masih harus berkutat dengan konflik yang belum tuntas dengan eks kaptennya, Wiljan Pluim. Meski sang pemain sudah pensiun, perseteruan terkait perpindahan transfer belum juga menemui titik temu.
“Kalau PSM memang belum sepakat, itu lebih ke sengketa dengan Pluim,” jelas Ferry. Semen Padang dan PSM merupakan dua dari lima klub Indonesia yang tercantum dalam daftar larangan pendaftaran pemain FIFA. Tiga lainnya adalah PSIS Semarang (Championship), Kalteng Putra dan Bina Putra FC (eks-Persiwa Wamena) yang bermain di Liga 4.
Apabila Semen Padang dan PSM belum mendapat pencabutan larangan sebelum laga perdana, mereka dipastikan tak bisa memainkan pemain anyar yang direkrut musim ini.
PSM akan membuka laga Super League melawan Persijap Jepara di Stadion Gelora B.J. Habibie, Parepare, Jumat (8/8) pukul 19.00 WIB. Sehari berselang, Semen Padang bertandang ke markas Persib Bandung di Stadion GBLA, Sabtu (9/8) pukul 15.30 WIB.
“Kalau sampai tanggal main belum juga dicabut, maka mereka hanya bisa memainkan pemain musim lalu. Kalau jumlahnya tidak cukup, bisa berisiko lebih besar,” tegas Ferry. Pendaftaran pemain Super League masih dibuka hingga 29 Agustus. Jika hingga batas itu status clearance belum dicabut, klub-klub tersebut harus bersiap menanggung konsekuensi lebih berat.


















