Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Uncategorized

Haji Taufiq Temui PM Kesultanan Bacan, Tegaskan Pentingnya Persatuan Bangsa

38
×

Haji Taufiq Temui PM Kesultanan Bacan, Tegaskan Pentingnya Persatuan Bangsa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA – (AmperaNews.com) – Ketua Umum Presidium Pusat Gerakan Masyarakat Rekonsiliasi Nasional (PP Gemaren) Haji M Taufiq R. Abdul Syakur menilai Kerajaan-Kerajaan Nusantara termasuk Kesultanan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara menjadi inisiator pengakuan dan persatuan Negara Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamirkan oleh Soekarno – Mohammad Hatta pada 17 Agustu 1945.

Haji Taufiq sapaan akrabnya menyampaikan hal itu saat bersilaturahmi ke kediaman Perdana Menteri Kesultanan Bacan, Rabu (23/7/2025) di Halmahera Selatan, Maluku Utara. Saat berkunnung, Haji Taufiq diterima langsung oleh Jogugu Perdana Menteri H. Muchdar Arief dan pengurus kesultanan mewakili Sultan Muhammad Irsyad Maulana Syah yang sedang ke luar negeri.

Example 300x600

“Sikap pemimpin atau raja Kesultanan Bacan dengan tegas menyatakan menjadi inisiator dan pelopor pengakuan proklamasi kemerdekaan RI. Hal ini sebagai wujud loyalitas kepada kedaulatan bangsa dan negara untuk lepas dari kolonialisme,” kata Haji Taufiq. Menurutnya, dalam rangka merajut kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tidak tercerai berai. Tentunya diperlukan persatuan Indonesia sebagai pengamalan Pancasila Sila ke-3 Persatuan Indonesia “Persatuan Indonesia adalah pengamalan Sila ke 3 Pancasila. Persatuan Indonesia oleh Kerajaan-Kerajaan dan Kesultanan Nusantara adalah akar sosial dari NKRI yang terus tertanam hingga sekarang,” ucap Haji Taufiq.

Perlu diketahui, kata Haji Taufiq yang juga Ketua Umum Presidium Pusat Gerakan Masyarakat Rekonsiliasi Nasional (PP Gemaren) ini, Kesultanan Bacan adalah suatu kerajaan yang berpusat di Pulau Bacan, Kepulauan Maluku, Indonesia. Saat itu muncul dengan perluasan perdagangan rempah-rempah di akhir abad pertengahan.

“Kesultanan ini berawal di Pulau Makian yang kemudian mengungsi ke Pulau Bacan akibat Gunung Kie Besi dan jangkauan kekuasaannya terdiri dari Kepulauan Bacan (Bacan, Kasiruta, Mandioli, dan lain-lain), tetapi memiliki pengaruh berkala di Seram dan Kepulauan Raja Ampat,” katanya.

Menurut dia, Kesultanan Bacan jatuh di bawah pengaruh kolonial Portugal pada abad ke-16 dan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) setelah 1609. Bacan adalah salah satu dari empat kerajaan Maluku (Maloko Kië Raha) bersama dengan Ternate, Tidore dan Jailolo, tetapi cenderung dibayangi oleh Ternate. “Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, fungsi pemerintahan sultan secara bertahap digantikan oleh struktur administrasi modern.

Namun, kesultanan telah dihidupkan kembali sebagai entitas budaya di masa sekarang,” tegas Haji Taufiq. Lebih lanjut, dia mengatakan Raja Bacan pertama yang memeluk Islam adalah Raja Zainal Abidin yang bersyahadat pada tahun 1521. Sedangkan Raja Bacan pertama yang beragama Kristen adalah Dom João.

“Meski berada di Maluku, wilayahnya cukup luas hingga ke wilayah Papua Barat. Banyak kepala suku di wilayah Waigeo, Misool yang terletak di Raja Ampat dan beberapa daerah lain sempat berada di bawah administrasi pemerintahan Kesultanan Bacan,” ujar Haji Taufiq penuh kekaguman saat datang ke Kerajaan Kesultanan Bacan di era modern ini

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *