JAKARTA (Amperanews.com) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dinilai telah memasuki kondisi serius. Selain titik kebakaran, dampak berupa kabut asap juga mulai dirasakan masyarakat di berbagai daerah. (Rabu, 26/08/2026).
Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan menyebut kondisi karhutla saat ini berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan kejadian sebelumnya. Ia juga memperkirakan luas wilayah terdampak masih berpotensi bertambah dalam beberapa waktu ke depan.
Menurut Daniel, ancaman tersebut perlu diantisipasi karena Indonesia masih akan menghadapi puncak fenomena El Nino pada September mendatang.
“Kalau dilihat dari sisi puncak El Nino, maka bisa diperkirakan jika luasan karhutla akan terus meningkat,” kata Daniel dalam program detikSore, Senin (24/8/2026).
Daniel menilai kondisi cuaca yang semakin kering dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki lahan rentan terbakar. Karena itu, langkah pencegahan dan pemadaman perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Pemerintah Kejar Target Penanganan Karhutla
Di tengah ancaman meluasnya karhutla, pemerintah terus memperkuat operasi pemadaman di sejumlah daerah.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya turun langsung memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla saat melakukan kunjungan ke Riau. Pemerintah menyatakan penanganan kebakaran di sejumlah wilayah mulai menunjukkan perkembangan positif.
Pemerintah menargetkan titik-titik karhutla yang masih aktif dapat ditangani dalam waktu sekitar satu hingga dua pekan.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah mengerahkan berbagai sumber daya, mulai dari personel lapangan, helikopter, pesawat, pompa air hingga peralatan pendukung lainnya.
Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pemadaman sekaligus mencegah api kembali meluas ke wilayah lain.
Ancaman Tak Berhenti pada Kabut Asap
Persoalan karhutla dinilai tidak hanya berkaitan dengan kebakaran dan kualitas udara. Kerusakan lingkungan yang muncul setelah kebakaran juga menjadi perhatian serius.
Dampak ekologis dapat menjadi persoalan jangka panjang karena kebakaran, khususnya pada kawasan gambut, berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan memicu berbagai dampak lanjutan.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pencegahan, pemulihan lingkungan, pengawasan titik rawan serta penindakan terhadap aktivitas pembakaran juga menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman tersebut. (Rd)


















