Jakarta – (AmperaNews.com) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan prastudi kelayakan (feasibility study) dari 18 proyek hilirisasi senilai Rp618,13 triliun ditargetkan rampung akhir tahun ini.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya telah menyerahkan dokumen prastudi kelayakan 18 proyek tersebut kepada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada Juli lalu.
”Pasti (eksekusi) akan bertahap. Tapi semuanya pasti akan selesai akhir tahun ini. Karena harus segera dieksekusi proyeknya,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika ditemui di Jakarta, Jumat.
Disampaikan dia, pihak Danantara saat ini sedang mengerjakan studi kelayakan untuk 18 proyek tersebut, dan masing-masing proyek memiliki tingkat kesulitan tersendiri.
”Misalnya refinery beda dengan storage, storage beda dengan yang alumina, alumina beda dengan silika, mungkin beda-beda ya,” ucapnya.
Adapun salah satu prioritas pengerjaan studi kelayakan proyek hilirisasi ini yaitu terkait dimethyl ether (DME), karena dinilai ada kebutuhan bagi Indonesia mengelola produksi gas untuk LPG.
”Dan kita ada peluang untuk mensubstitusi LPG itu dari DME. Kalau itu bisa dilakukan kan bisa mengurangi impor gas,” ucapnya.
Sebanyak 18 proyek hilirisasi itu terdiri atas delapan proyek hilirisasi di sektor mineral dan batu bara, dua proyek transisi energi, dua proyek ketahanan energi, tiga proyek hilirisasi pertanian, dan tiga proyek hilirisasi kelautan dan perikanan.
Dengan menyerahkan dokumen prastudi kelayakan 18 proyek hilirisasi tersebut kepada Danantara, Kementerian ESDM berharap agar terdapat kajian lanjutan yang dapat menyempurnakan proyek-proyek tersebut


















