Sidang di Bhutan, DPR RI Tekankan Pentingnya Hak Sosial Migran


AmperaNews
02 Sep 2017, 08:25:34 WIB
Sidang di Bhutan, DPR RI  Tekankan Pentingnya Hak Sosial Migran

Amperanews.com--Delegasi DPR RI yang terdiri dari Siti Masrifah  (F-PKB/Komisi IX) dan Syofwatillah Mohzaib (F-PD/Komisi IV) menghadiri sidang APA Standing Committee on Social and Cultural Affairs di Thimphu, Bhutan. Sidang yang berlangsung dari tanggal 31 Agustus – 2 September 2017 membahas beberapa resolusi terkait isu sosial budaya yang menjadi perhatian bagi masyarakat di Asia.

Pada hari pertama, sejumlah  isu yang dibahas adalah mengenai promosi keberagaman budaya dan perlindungan warisan budaya di Asia, integrasi Asia melalui teknologi komunikasi dan informasi, kolaborasi untuk mencapai kesetaraan kesehatan di Asia, perlindungan dan promosi hak-hak pekerja migran, anti-korupsi, partisipasi perempuan di parlemen dan promosi dialog antar umat beragama di Asia.

Dalam sidang tersebut, delegasi Indonesia menekankan pentingnya perlindungan pekerja migran di Asia. Indonesia juga menegaskan negara anggota APA untuk mempromosikan kondisi kerja yang adil dan layak, serta upah minimum yang sesuai. Kemudian akses yang memadai terhadap kondisi kehidupan standarisasi bagi pekerja migran.

Pada usulan Indonesia ini, delegasi Bahrain sempat mengajukan keberatan. Menurut mereka tidak semua anggota APA menandatangani dan meratifikasi konvensi ILO terkait pekerja migran.

Sehingga akhirnya, sidang sepakat untuk mengambil jalan tengah dengan menambahkan kata “Negara anggota APA yang relevan” dalam perlindungan pekerja migran untuk meresolusikan hal tersebut.

Selain itu, dalam sidang hari pertama, delegasi Indonesia memperhatikan keberagaman status kesetaraan kesehatan di Asia. Indonesia merangkum perlunya kolaborasi antar pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan untuk menciptakan kesetaraan kesehatan di Asia.

Di lain sisi pengkajian mengenai isu perempuan. Delegasi Indonesia mendorong parlemen APA untuk memperhatikan kondisi ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender yang masih terjadi di Asia.

Delegasi Indonesia juga mengusulkan penyebutan negara Myanmar sebagai salah satu tempat terjadinya konflik yang membahayakan jiwa perempuan dan anak.

Pada pembahasan mengenai warisan budaya, Indonesia menyampaikan perlunya keterlibatan parlemen dalam restorasi cagar budaya yang hancur akibat konflik dan perang.

Di sela-sela sidang, anggota delegasi Syofwatillah Mohzaib melakukan pertemuan bilateral dengan perwakilan  delegasi dari bebrapa negara yaitu parlemen Bahrain, Turki, Irak , Iran dan parlemen Afghanistan.

Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, Indonesia mengajak parlemen negara tersebut untuk memperhatikan kondisi Muslim di Rohingya. Baru-baru ini telah terjadi serangan militer terhadap etnis Rohingya di Arakan, Myanmar yang menimbulkan korban jiwa dari kalangan perempuan, bayi dan anak-anak.

 Tragedi kemanusiaan yang memprihatinkan ini menjadi perhatian dari parlemen APA. Semua Delegasi parlemen negara mayoritas muslim tersebut menyampaikan dukungan penuh kepada delegasi Indonesia dan mereka menyatakan bahwa masalah ini merupakan keprihatinan bersama dan bakal disampaikan dalam pertemuan-pertemuan di tingkat internasional.

Saat sesi sidang, delegasi Turki menyampaikan intervensi agar parlemen APA mengecam serangan militer yang terjadi pada Muslim Rohingya di Arakan tersebut.

Dalam pertemuan bilateral khusus secara terpisah dengan Wakil Ketua Parlemen Kamboja, H.E. Dr. Nguon Nhel, anghota DPRRI H. Syofwatillah Mohzaib. Meloby Parlemen Kamboja sebagai bagian dari Negara ASEAN yang saat ini juga menjabat sebagai Presiden APA untuk memperhatikan kasus Rohingya.

Parlemen Kamboja menyambut baik usulan Indonesia tersebut dan prihatin terhadap masalah yang secara tegas akan turut memperjuangkannya baik Kamboja sebagai anggota AIPA maupun APA.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook