Rahasia Mendidik Anak dengan Bayan Hati Suku Semende


AmperaNews
12 Mei 2018, 22:27:35 WIB
Rahasia Mendidik Anak dengan Bayan Hati Suku Semende

Keterangan Gambar : Goresan Anak Suku Sementara Sumatera Selatan


Afriantoni

(Pemerhati Pendidikan)

Sungguh sedih melihat perkembangan generasi muda saat ini. Anak yang hidup di era sekarang harus bertarung melawan dampak negatif globalisasi. Dampak ini hampir ada dalam segala aspek kehidupan. Dalam bidang sosial budaya misalnya: individualisme, konsumtif, dan materialisme meningkat, berkurangnya rasa kekeluargaan, berkurangnya semangat gotong royong, menipisnya nilai-nilai budaya lokal, pudarnya semangat nasionalisme, gaya hidup meniru orang barat yang tidaksesuai dengan norma di masyarakat, berkurangnya nilai-nilai keagamaan, dan rusaknya moral masyarakat karena budaya yang bertolak belakang dengan norma yang ada. (Hakim, 2018). Semua dampak negatif ini sudah menjadi fenomena nyata dalam kehidupan zaman sekarang. Keluarga, masyarakat dan sekolah sebagai tempat anak mengembangkan diri dan kepribadi mulai terkikis oleh dampak negatif globalisasi ini. 

Disisi lain, revolusi mental sebagai kampanye peningkatan SDM belum sepenuhnya dapat dikatakan berhasil. Secara nyata dalam beberapa tahun belakangan tercatat puluhan kasus pembunuhan sadis di negeri tercinta. Pelakunya sangat variatif dari anak-anak, remaja belasan tahun sampai usai dewasa. Artinya, hampir merambah semua usia. Selain itu, maraknya pelecehan seksual pada anak yang menyita perhatian publik. 

Menurut data media online kekerasan seksual, fisik maupun eksploitasi seksual komersil mencapai 525 kasus atau 15,85 % dari kasus. Pada 2012 terdapat 746 kasus. Jumlah ini meningkat 226 persen dari tahun sebelumnya, dengan jumlah kasus sebanyak 329 kasus. Jadi, rata-rata 45 anak mengalami kekerasan seksual setiap bulan (KPAI, 2013). Maraknya kekerasan seksual pada anak menjadi gambaran betapa lemahnya jaminan keamanan dan perlindungan bagi anak-anak. 

Situasi ini telah menjadi salah satu profil kejahatan yang paling tinggi sampai dengan sekarang. Kasus kekerasan seksual terhadap anak ini menambah deretan permasalahan bangsa ini. Penyebabnya pun sangat sederhana dari impitan ekonomi, cemburu, sampai sakit hati. Motif sederhana ini kalau dikaji akan mempertanyakan proses pembelajaran di ruang-ruang kelas. Terakhir pembunuhan oleh siswa di Sampang Madura.

Pendidikan sebagai jantung pertahanan setiap individu di negeri ini seolah harus menerima kenyataan pahit dan ikut serta bertanggung jawab atas fenomena pembunuhan tersebut. Hal ini menunjukkan tantangan revolusi mental masih perlu untuk dikampanyekan serta digali potensi kelokalan agar dapat diterapkan dalam dunia pendidikan.  

Fenomena di atas masih terjadi sampai sekarang sebagai bagian dari kids zaman now. Hal yang “mencengangkan” bahkan istilah kids zaman now awalnya bukan istilah yang positif. Kids zaman now adalah istilah yang di dalam mengandung gaya trendy generasi sekarang dengan ciri-ciri: melawan orang tua, pacaran ala anak SD/SMP, makan micin, "ngaibon atau ngelem", candu internetan, candu games, candu narkoba, minuman keras, membuat video porno, menjual diri, cabe-cabean, dan sebagai. Semua istilah ini merujuk kepada hal negatif.

Mereka merasa bangga dengan julukan "kids zaman now". Sampai istilah ini menjadi viral dan digunakan seluruh elemen masyarakat. Padahal mereka masih sangat belia. Rata-rata berada pada umur 8-18 tahun. Sungguh fenomena ini harus ditindak dengan "counter culture" agar generasi masa depan dapat mencapai masa keemasannya.

Begitulah, persoalan bangsa yang beraneka ragam tidak bisa disamakan antara satu dengan lainnya. Dalam konteks tersebut generasi sekarang lebih cepat terkontaminasi hal yang negatif. Tentu hal ini merupakan masalah kebangsaan atau masalah bersama. Untuk itu, dalam rangka membumikan kembali tradisi lokal di lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah melalui salah tradisi lokal yang sudah selayaknya untuk terus dikembangkan dan dilestarikan adalah Bayan Hati. 

Salah satu budaya lokal yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran di lingkungan pendidikan adalah Bayan Hati. Tradisi ini sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun dalam masyarakat suku Semende. Bersyukurnya, perubahan sosial dan globalisasi ini tidak merubah tradisi Bayan Hati bagi suku Semende walaupun sudah berpindah atau tidak bermukim di daerah Semende.

Sekilas Suku Semende

Semende atau Se-mah-nde diartikan sebagai “rumah kesatuan milik bersama”. Semende mengajarkan supaya setiap pribadi merasa terikat dengan rumah (keluarga) dan rumah-rumah keluarga ini mesti terikat dengan (dalam kesatuan ) dengan rumah induk (Thohlon, 1989: 14). Itulah sebabnya, suku Semende terkenal dengan nilai-nilai kekeluargaan terbaik yang terus ditradisikan dalam keluarga besar mereka. 

Secara geografis daerah Semende termasuk daerah yang agak sulit dijangkau karena dikelilingi pegunungan. Semende terletak di dataran tinggi yang diapit jajaran Pegunungan Bukit Barisan. Pegunungan Bukit barisan merupakan jajaran pengunungan yang membentang dari ujung Utara (Aceh) sampai ujung Selatan (Lampung) pulau Sumatera. Jajaran pegunungan ini memiliki panjang lebih kurang 1650 km dan puncaknya yang tertinggi yaitu Gunung Kerinci yang berlokasi di Jambi dengan ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut.

Dalam kehidupan suku Semende sampai sekarang masih menerapkan Bayan Hati. Rata-rata mereka telah menerima Bayan Hati secara taken for granted sebagai warisan budaya. Pewarisan budaya ini tetap dilakukan meskipun tergerus zaman dan perubahan-perubahan sosial lainnya. Mereka mewajibkan kepada anak-anak mengenal, melestarikan, dan menerapkan Bayan Hati. Sebuah konsep keikhlasan hati yang mendalam di mana keikhlasan saat ini menjadi hal yang sulit ditemui dalam masyarakat modern.

Apa itu Bayan Hati?

Suku Semende memang terkenal dengan nilai-nilai keislamannya. Karena itu, istilah bayan ini diambil dari salah satu nama Al Quran. Al Bayan disebut juga sebagai kefasihan dalam memberikan penjelasan. Menurut Im?m asy-Sy?fi‘? mengatakan: “Al-Bay?n adalah sebuah nama yang menyeluruh atau memiliki pengertian yang kompleks, yang mencakup kaidah-kaidah dan memiliki banyak cabang”. Karena itu, maka dalam konteks kemasyarakatan, maka bayan memiliki pengertian memberikan penjelasan dengan jelas dan sempurna.

Menurut Manaulaili, dkk, 2016,”tradisi Bayan Hati adalah tradisi unik yang masih dipakai dalam masyarakat suku Semende”. Bagi masyarakat suku Semende tradisi Bayan Hati  adalah salah satu tradisi alami dan unik yang dilakukan oleh masyarakat Semende, di mana tradisi ini masih terjaga sampai sekarang. Tradisi Bayan Hati merupakan konsep menghargai dan percaya pada pendatang baru yang ada di wilayah Semende. 

Singkatnya, Bayan Hati merupakan konsep keikhlasan hati yang dalam dan juga penghormatan yang mendalam dalam menyambut dan menghargai tamu. Bayan Hati sebagai penerimaan dengan keikhlasan yang paripurna bukan hanya secara fisik dan emosional namun juga secara spiritual.

Bayan Hati dan Interaksi Sosial

Tradisi Bayan Hati dalam masyarakat Semende dapat dilihat dari keseharian mereka.Keseharian mereka ini menjadi bagian penting dalam interaksi sosial mereka di masyarakat yang bermula dari lingkungan keluarga.

Pertama, singgah kudai. Istilah ini merujuk kepada jika ada seseorang lewat di rumah penduduk Semende, meskipun pemilik rumah tidak mengenal siapa yang datang, ia akan menyapanya dengan sapaan khas Semende, “singgah kudai” (mampir dulu). Proses ini sebagai bentuk interaksi antara tamu dan tuan rumah. Tuan rumah mulai mempersilahkan duduk, memberi minum, menghidangkan makanan berlanjut dengan percakapan dan obrolan.

Kedua, tandanglah. Interaksi positif ini akan membuka hubungan kedua belah pihak dimana mereka akan saling terbuka. Selanjutnya tuan rumah mengajak untuk menginap atau bermalam. Bahasa Semendenya “Tandanglah” (menginaplah). Saat ajakan tuan rumah disambut dengan baik oleh tamu maka tuan rumah mulai menyiapkan pakaian untuk tamu, peralatan untuk shalat dan memberi tahu sanak keluarga bahwa ada tamu yang akan menginap. Tuan rumah mulai sibuk mempersiapkan hidangan untuk makan malam. 

Ketiga, keakraban. Kalau tamu bersedia menginap dan tuan rumah pun mulai pada waktu malam membuka interaksi. Terjadi interaksi antara tamu dengan tuan rumah dan keluarganya. Pada saat inilah biasanya berlaku pola pendidikan yang sifatnya informal. Biasanya tuan rumah menanyakan tentang asal tamu, keluarganya dan hal-hal lainnya tanpa bermaksud menyelidiki tamu, hanya untuk mendapatkan informasi atau riwayat tamu karena adat Semende sangat menghargai kekerabatan. Keesokkan hari tamu melanjutkan perjalanan dan dibekali dengan bekal makanan untuk di perjalanan.

Tradisi ini Bayan Hati yang ada di Semende dikenal paling aman. Bila ada yang melakukan kejahatan, langsung diketahui siapa orangnya. Wajar kiranya pada suku Semende, semua masyarakat saling mengenal, termasuk pendatang. Kapan saja datang ke Semende dipastikan aman.

Soul of Bayan Hati 

Dari uraian di atas, sebenarnya penerapan Bayan Hati sebagai tradisi suku Semende sangat positif dan masih tetap layak diterapkan mulai dari keluarga (rumah), masyarakat (lingkungan), dan sekolah. Apalagi nilai-nilai ini masih terjaga oleh suku Semende, sekalipun oleh mereka yang tidak lagi menetap di Semende. 

Rahasia pendidikan Bayan Hati adalah keikhlasan hati. Keikhlasan berasal dari hati yang dalam dan juga penghormatan yang mendalam dalam menyambut dan menghargai tamu. Penerimaan atas dasar sesama makhluk yang paripurna bukan hanya secara fisik dan emosional namun juga secara spiritual. 

Sungguh luar biasa Bayan Hati ini, karena mampu membentuk kepribadian anak menjadi anak yang berkarakter. Mau tidak mau masalah yang mendasar dalam diri anak hari ini adalah karakter mereka. Salah satu masalah dalam dunia pendidikan saat ini adalah karakter. Karaakter dalam pendidikan nasional menjadi salah satu capaian mutu pendidikan. Untuk keluar dari situasi yang sudah meluas ini, maka budaya lokal harus menjadi ujung tombak di tingkat lokal untuk dikembangkan melalui pendidikan. Bayan Hati kiranya dapat dijadikan budaya dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan.

Pertama, berkata-kata dengan baik. Kata “singgah kudai” ini sebagai salah satu kata yang dibudayakan pada adat Semende dan bisa dilakukan setiap waktu kepada siapapun. Dengan sapaan ini orang akan merasa nyaman dan dekat secara emosional, sehingga akan menimbulkan nilai keakraban yang luar biasa bagi masyarakat sekitar atau bahkan penduduk baru sekalipun.

Siapapun orangnya, akan senang disapa dengan bahasa khusus karena mengandung nilai-nilai “hati’ yang melambangkan nilai sopan santun yang tinggi. Melalui pendidikan dengan Bayan Hati, maka akan terbangun sebuah pandangan positif bagi anak. Seharusnya perkataan keluar adalah baik dan pola asuh yang positif. Melalui pendekatan ini, maka dapat menjalin relasi yang baik dan saling menghargai dengan anak. Hal ini dimaksudkan agar potensi dasar anak dapat berkembang secara optimal. 

Kedua, berbaik sangka. Berbaik sangka dalam budaya Semende biasanya disampaikan melalui ajakan khusus tidak sekedar singgah tapi juga mau menginap tanpa harus berburuk sangka pada siapapun yang bertamu. Bahkan berbaik sangka ini juga membudayakan penduduk Semende selalu menjamu tamunya dengan baik, mulai memberikan makanan bahkan menyiapkan pakaian khusus bagi tamunya yang menginap. 

Ketiga, memuliakan orang lain. Budaya memuliakan orang lain juga tidak saja dianjurkan dalam ajaran keagamaan, lebih sekedar itu, budaya ini juga sudah menyatu dengan masyarakat Semende yang mampu menempatkan kebutuhan orang lain dengan baik. Tidak saja memberikan materi yang dibutuhkan para tamu tapi juga kata-kata yang baik.

Keempat, menjaga ukhuwah islamiyah. Demi melanggengkan sebuah hubungan kekerabatan, suku Semende selalu mendahulukan kepentingan orang lain dari diri mereka sendiri. Tidak hanya dalam bentuk sebuah hubungan sementara namun juga hubungan jangka panjang. Saling berkunjung, saling mengingatkaan dalam kebaikan dan saling membantu  dari bentuk pemikiran maupun lainya.

Kelima, mendoakan orang lain. Inilah puncak dari karakter budaya Bayan Hati, mampu dan mau mendoakan orang lain dengan hati ihlas tulus. Sulit dilakukan bagi yang tidak memiliki nilai keihlasan untuk melakukan hal ini. Kebanyakan dari orang berdoa untuk kepentingan sendiri dan keluarga. Namun tidak pada budaya Bayan Hati ini, seseorang mau mendokan kebikan bagi orang lain sekalipun tidak dikenalnya orang tersebut. 

Dari uraian di atas, anak akan memperoleh banyak pengalaman dengan menerapkan Bayan Hati. Anak akan belajar dengan baik di lingkungan masyarakat dan sekolah. Jika semua  bisa diterapkan dengan baik oleh anak, maka anak mampu bagaimana menghargai keikhlasan Bayan Hati dari berbicara, berbaik sangka, memuliakan orang lain, menjaga ukhuwah islamiyah, dan mendoakan orang lain.

Terakhir, pengalaman anak tersebut akan mengerti makna keikhlasan hati baik secara fisik, emosional dan spritual yang mendalam. Karenanya, untuk membangun kepribadian anak harus melalui dengan berproses secara terus menerus, sehingga anak mampu menunjukkan kepribadian sesuai dengan nilai-nilai ideologi bangsa selaras dengan budaya lokal. Hal ini akan sangat luar biasa untuk membangun jiwa anak yang unik.(*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook