La Taghdob Wa lakal Jannah


Rzy
04 Agu 2017, 17:03:31 WIB
La Taghdob Wa lakal Jannah

Keterangan Gambar : ilustrasi "marah"


La taghdob wa lakal jannah, jangan marah bagimu syurga..

Hadits familiar yang dengan polosnya sering dilontarkan oleh anak-anak yang mengenyam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berbasis islam, terasa seperti hujan dibatasan kemarau, memberikan kesejukan yang telah tersita oleh amarah. Raut wajah lugu mereka merobohkan kemarahan yang kian mengakar dan memuncak. Ternyata, luapan amarah tidak menjadikan seseorang lebih kuat, tetapi justru sebaliknya. Sebagaimana tertulis dalam hadits Muttafaq Alaihi, "Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah."

Marah itu apa sih ?

Menilik pengertian marah menurut bahasa, sebagaimana diuraikan dalam kitab Aafaatun ‘Alath-Thariq karya Sayyid Muhammad Nuh (1993). Marah berarti tidak rela terhadap sesuatu dan iri dari sesuatu. Diambil dari kosa kata arab, “ghadiba ‘alaihi ghadaban wamagdhabatan,” berarti marah atau tidak rela atas sesuatu. Sedangkan jika dilihat dari kata “ghadiba lahu” berarti marah atau tidak rela kepada seseorang untuk kepentingan orang lain dan berarti muram pada kosa kata “naqatun ghadub, imra’atun ghadub”.

Menurut istilah, marah berarti perubahan internal atau emosional yang menimbulkan penyerangan dan penyiksaan guna mengobati apa yang ada dalam hati. Dalam kamus psikologi Chaplin (2002) marah berarti reaksi emosional akut ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang, termasuk ancaman, agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan atau frustasi, dan dicirikan oleh reaksi kuat pada sistem syaraf otonomik, khususnya oleh reaksi darurat pada bagian simpatetik; dan secara implisit disebabkan oleh reaksi serangan lahiriah, baik yang bersifat somatis atau jasmani maupun yang verbal atau lisan. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa marah merupakan reaksi emosional yang ditimbulkan oleh suatu rangsangan dari luar ataupun dalam dirinya, disertai dengan perasaan tidak suka yang sangat kuat.

Marah dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu:

1. Marah Berlebihan.

Suatu state (kondisi) seseorang didominasi oleh amarah yang dapat membuatnya keluar dari sifat rasional dan aturan agama. Terjadinya kondisi semacam ini karena timbul dari dua faktor, yakni faktor pembawaan dan kebiasaan. Tidak sedikit orang mempunyai kebiasaan pemarah sebagai sifat bawaan, seakan-akan wajahnya cerminan dari sifat itu. Pembawaan itulah yang dapat menyulut panasnya kebiasaan hati, karena sifat marah memang disimbolkan bersumber dari api, sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Marah itu menyulut api di hati bani Adam. Tidakkah engkau perhatikan matanya memerah dan urat lehernya mengembang.” (HR Tirmidzi). Faktor yang kedua sering diakibatkan oleh lingkungan yang mudah melampiaskan kemarahannya dan menyebut itu sebagai keberanian dan kejantanan. Sifat orang seperti ini, bila diberitahu atau dinasihati, ia tidak mampu mendengarkan dan justru akan semakin meningkatkan kemarahannya.

2. Marah yang Sedang.

Pada kondisi seperti ini seseorang kehilangan kekuatan, tidak berdaya. Imam Syafi’i berkata, “Siapa yang dituntut oleh suatu kondisi untuk marah akan tetapi tidak marah, maka ia adalah keledai. Dan siapa yang kehilangan rasa marah dan pembelaan, berarti ia sangat kurang.” Dalam Alquran disebutkan, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…” (QS Al-Fath:29).

3. Kombinasi antara keduanya.

Kondisi ini menunjukkan terdapat dorongan kuat yang ditimbulkan oleh rangsangan dari faktor rasional dan agama. Seperti halnya ketika terpancing marah yang mengharuskan agar melakukan pembelaan atau pembalasan dan segera reda pada kondisi di mana diharuskan untuk kembali berlaku seperti biasanya.

 

Boleh Marah

Marah merupakan reaksi terhadap motif-motif (dorongan) yang tidak terpenuhi. Sejak kecil bahkan sejak bayi sudah mampu untuk melakukan perilaku marah tersebut. Namun pada bayi dan anak yang belum bisa bicara dan perilaku marah biasanya berupa tangisan. Marah itu perlu dan harus dilakukan oleh setiap individu, dalam hal apa ? Menurut Daradjat (2001), bahwa marah itu boleh dilakukan oleh seseorang pada kondisi tertentu. Bila marah sering dilakukan oleh seseorang pada kondisi yang salah atau sebab yang tidak jelas maka hal itu merupakan tanda dari gangguan mental. Sebagai seorang muslim, tentunya akan marah ketika melihat kemunkaran, kemaksiatan dan tdak tinggal diam saat islam didzhalimi.

Akan tetapi, yang sering terjadi adalah seseorang marah hanya sekedar untuk menuruti ego diri dan menjadi menolak kebenaran serta berbuat tidak rasional. Sehingga, marah biasanya selalu dikonotasikan pada hal-hal yang negatif. Orang yang pemarah cenderung tidak banyak disukai orang. Islam sebagai agama Rahmatan Lil'alamin mengajarkan bagaimana membuat amarah tersebut menjadi tidak liar, ganas dan membahayakan orang lain. Hal ini tercantum dalam QS.Ali Imran:133-134, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabb-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”.

 

Jika Api Mulai Membara

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa ada seseorang berkata: Wahai Rasulullah, berilah aku nasihat. Beliau bersabda: "Jangan marah." Lalu orang itu mengulangi beberapa kali, dan beliau bersabda: "Jangan marah." [HR.Bukhari]. Perintah Rasulullah untuk tidak marah mengandung 2 penafsiran, yaitu tahanlah marah ketika ada sesuatu yang membuat marah maka berusahalah untuk tidak melampiaskan kemarahannya dan menghindarkan diri dari sebab-sebab yang mendatangkan kemarahan. Lantas, bagaimana jika api amarah sudah terlanjur bergejolak ?

  1. Take a minute for breathing

Sebelum api amarah kian membakar diri, segeralah untuk redakan gejolaknya dengan menenangkan diri. Tarik nafas yang dalam dan beristighfar, serta membaca ta’awudz. Hadis riwayat Sulaiman bin Shurad ra, ia berkata: Dua orang pemuda saling mencaci di hadapan Rasulullah SAW. lalu mulailah mata salah seorang dari mereka memerah dan urat lehernya membesar. Rasulullah SAW. bersabda: Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila diucapkan, maka akan hilanglah kemarahan yang didapati yaitu "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk". Lelaki itu berkata: “Apakah engkau menyangka aku orang gila?”. (HR.Muslim). Jika dalam kondisi berdiri, masih belum bisa mengendalikan amarah, maka duduklah. Jika duduk juga masih belum bisa meredakan, maka berbaringlah. Jika keduanya belum ampuh juga, maka segeralah berwudhu, karena marah itu ibarat api dan api hanya bisa padam dengan air.

  1. Berpikir sebelum bertindak

Jangan biarkan emosi mengendalikan pikiran dan menyingkirkan batasan syar’ie, karena hal ini mengakibatkan perilaku yang tidak rasional dan melanggar syari’at. Interopeksi diri karena bisa jadi justru diri sendiri yang salah, sekalipun memang ‘dia’ yang salah, maka tepatkah pilihan untuk marah ? dan tidak adakah cara lain yang lebih bijak untuk meluruskan ‘dia’ ?

  1. Berikan kesempatan ‘dia’ untuk bicara

Seringnya menjadi marah karena terlalu cepat mengambil kesimpulan, mengambil kesimpulan sendiri dan akhirnya berbuah su’udzon. Padahal belum tentu persangkaan itu benar. Untuknya, maka komunikasi menjadi penting sekali. Memberikan kesempatan ‘dia’ untuk bicara dan dengannya akan jelas sebab perkaranya.

  1. Samakan frekuensi

Saling mengutarakan apa maksud dan yang menjadi keinginan masing-masing. Tetap berusaha untuk saling memahami dan mengambil jalan tengah permasalahan.

  1. Meminta maaf dan memaafkan

Mengucapkan maaf dan memaafkan bukanlah hal yang sulit, sedikit hanya perlu menyingkirkan gengsi diri. Allah befirman dalam QS. Asy Syuura:37. “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf “.

 

Membiasakan diri untuk kelima hal diatas ketika marah mungkin masih dirasa sulit dan aneh. Akan tetapi, jika perubahan ini perlahan dan sering dicoba untuk dilakukan, maka lama kelamaan pun akan menjadi reflek. La Taghdob. Jangan Marah

 

Sumber: http://orgblgapa.blogspot.co.id/2009/07/la-taghdob-jangan-marah.html

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Iklan Business

STATISTIK PENGUNJUNG

  • User Online 1

  • Today Visitor 28

  • Hits hari ini 51

  • Total pengunjung 141018

  • IP Anda 3.214.184.124