Hari Pers Nasional 2019, Merefleksi Makna Kebebasan Bersuara


crew
09 Feb 2019, 22:06:54 WIB
Hari Pers Nasional 2019, Merefleksi Makna Kebebasan Bersuara

Amperanews-- 9 Februari 1968, hari ini lima puluh tahun lalu menyimpan peristiwa penting dalam sejarah perjalanan Pers Indonesia.Sebabnya, tanggal tersebut merupakan peresmian hari Pers Indonesia sebagai hari nasional dalam salah satu butir kongres PWI di Sumatera Barat tahun 1978.

Sebelum disahkan oleh presiden B.J. Habibie, sebutan Pers dulu memang lebih dikenal dengan asosiasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Selain menjadi organisasi tunggal sebagai tempat bernaung wartawan Indonesia, masa itu PWI pun sepak terjangnya juga tak bisa terlalu bebas. Pasalnya, pada masa orde baru pemerintahan bangsa ini terlalu keras pada setiap pers yang dianggap membangkang atau menyebarkan berita yang memperburuk citra pemerintah. Meskipun, apa yang ditulis adalah kondisi resmi yang faktual.

Saat ini, hari Pers diperingati oleh hampir setiap instansi yang ada di Indonesia. Suara-suara yang menjunjung tinggi demokrasi telah dianggap sebagai hak asasi resmi yang patut diterima oleh setiap masyarakat. Kebebasan berpendapat, supremasi hukum, dan penyampaian aspirasi telah menjadi hal biasa dalam kehidupan sehari-hari yang nyaringnya semakin terdengar, bahkan oleh lapisan masyarakat terbawah sekalipun. 

Peringatan hari Pers nasional tahun 2019 diselenggarakan di salah satu Mall besar di Kota Surabaya, tepatnya di Grand City Mall. Tahun ini, peringatan HPN mengusung tema 'penguatan ekonomi kerakyatan berbasis digital'. Tak hanya dihadiri oleh partisipan dari banyak kementrian di Indonesia, agenda yang dibuka langsung oleh Ir. Jokowi ini juga didukung oleh berbagai UMKM untuk mempelajari pengembangan ekonomi secara modern.

Jika ditilik lebih jauh, peringatan HPN ini sebenarnya memang bukanlah bentuk simbolis tahunan saja. Melainkan untuk membangkitkan rasa empati masyarakat perihal peran penting wartawan yang selama ini belum banyak masyarakat yang menyadarinya. Tak jarang seorang wartawan dianggap remeh dan hanya dianggap sebagai pericuh situasi.

Namun di balik itu, wartawan secara tidak langsung juga merupakan wakil rakyat yang menyuarakan aspirasi-aspirasi melalui media. Fakta hukum, kriminalitas, bencana, keributan, pencapaian prestasi. Informasi yang saling terhubung begitu mudahnya saat ini juga tak lepas dari peran wartawan sebagai pemburu isi berita tersebut. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan kompleks yang tak hanya membutuhkan skill, namun juga keberanian dan percaya diri yang kuat.

Yang perlu kita refleksikan dalam diri masing-masing kini ialah, sudahkan momentum pers dan kebebasan bersuara ini dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan hal-hal yang memang bermanfaat? Menuliskan berita faktual namun sulit dan menuliskan berita hoax yang cepat viral tentu merupakan tolak ukur yang sangat berbeda untuk menganalisis kapasitas pelaku pers kini. Mayoritas masyarakat mungkin bisa dikelabui. Namun di sisi yang lain, beberapa pihak benar-benar menilai kualitas dari apa yang dihasilkan oleh orang-orang dibalik suatu media Pers.

Semakin berkualitas buah pemikirannya, maka semakin berkembang pula isu-isu penting yang bisa diangkat untuk membangun bangsa ini. Sebaliknya, jika hanya mengukur dari sisi luasnya lingkup publikasi namun apa yang ditulis sama sekali tak berbobot, semakin jauh pula harapan kita untuk dapat membantu kemajuan negara ini.

Kebebasan bersuara yang berkualitas. Tak semua hal mungkin dapat diterima sebagai sesuatu yang patut diangkat ke publik. Namun, paling tidak dengan menyuarakan hal-hal yang memang patut diangkat tanpa campur tangan oknum-oknum politik tertentu, secara tidak langsung akan turut menyuarakan aspirasi dari sebagian besar masyarakat yang memiliki penilaian serupa. 

 


Teks : Anisa
Editor : Arif




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook