Fakta dan Mitos Ketindihan


crew
23 Jan 2019, 21:16:31 WIB
Fakta dan Mitos Ketindihan

Amperanews-- Pernahkah Anda mengalami sesak napas seketika dan merasa tubuh sulit bergerak saat menjelang tidur atau hendak bangun dari tidur?

Jika pernah, maka artinya saat itu Anda tengah mengalami gangguan yang sering disebut orang-orang sebagai 'ketindihan'. Ketindihan termasuk dalam gangguan tidur parasomnia yang gejalanya hampir mirip seperti kelumpuhan. 

Istilah ketindihan, sering digunakan masyarakat indonesia untuk mengoperasionalkan istilah medis sleep paralysis atau kelumpuhan ketika tidur. Seluruh rentang usia bisa mengalami gangguan ini. Namun, biasanya yang paling sering terjadi ialah pada usia remaja hingga dewasa awal.

Umumnya, seseorang yang mengalami sleep paralysis akan merasa ingin bangun namun tidak bisa bergerak. Pusat otak mengirimkan sinyal seolah ada benda atau sesuatu besar yang menimpa tubuh sehingga akan sulit bergerak. 

Berdasarkan mitos yang beredar, nenek moyang kita menebarkan cerita turun temurun bahwa kelumpuhan tidur disebabkan ada gangguan makhluk halus gentayangan yang sedang menimpa tubuh. Padahal, dalam dunia medis fenomena ketindihan ini memiliki rujukan khusus berdasarkan penelitian ilmiah.

Studi terbitan jurnal Clinical Psychological Science menyatakan, ketindihan dapat terjadi ketika mekanisme otak dan tubuh tidak berjalan selaras dan tumpang tindih. Hal ini menyebabkan seseorang terbangun tiba-tiba saat masih berada dalam siklus REM sehingga tubuh merespon dengan kondisi setengah sadar dan tidak sadar. Karena motorik tubuh yang belum sepenuhnya siap menerima sinyal bangun, maka yang terjadi adalah tubuh kita akan mengalami kaku dan sesak napas.

Lalu, apa sih penyebab sebenarnya dari sleep paralysis?
Berikut ini Amperanews merangkum beberapa fakta penyebab terjadinya sleep paralysis.

- Stress berlebihan.
Sleep paralysis bisa disebabkan oleh stress yang berlebihan. Ketika stress, biasanya jam tidur seseorang akan menjadi tidak teratur. Waktu dimulainya tidur hingga waktu terbangun pun menjadi tidak stabil. Akibatnya, saat tubuh akan memasuki fase Rapid Eye Movement (REM) atau tidur pulas, akan terdapat banyak mekanisme tubuh yang merespon secara abstrak sehingga akhirnya menimbulkan gangguan sleep paralysis terjadi.

- Narkolepsi (gangguan sistem saraf saat tidur)
Narkolepsi dialami oleh seseorang dengan kadar hipokretin rendah. Hipokretin merupakan zat kimia dalam otak yang berfungsi mengendalikan waktu tidur. Penderita narkolepsi biasanya bisa merasa mengantuk tiba-tiba dan tidur tak kenal tempat meskipun di tengah aktivitas siang hari. Gangguan ini mempengaruhi syaraf otak aktif sehingga saat terhubung ke fase tidur pulas, seseorang dapat mengalami sleep paralysis.

- Mengonsumsi obat ADHD
Obat Attention-deficit hyperactivity disorde (ADHD) merupakan obat yang diberikan pada seseorang dengan keadaan hiperaktif. Biasanya, obat ini diberikan pada anak-anak yang masih kesulitan mengontrol emosi sehingga butuh penenang agar dapat mengatasi perilaku impulsif yang biasanya timbul. Konsumsi obat ini secara berkala dapat berpengaruh terhadap resiko terjadinya sleep paralysis.

- Penyalahgunaan narkotika
Mengonsumi narkotika adalah salah satu faktor pemicu terjadinya gangguan ini. Seperti yang kita ketahui, narkotika memiliki efek swing bagi penggunanya. Narkotika juga mempengaruhi kerusakan fungsi saraf otak sehingga respon tubuh terhadap berbagai kejadian di sekitar juga akan berkurang. Turunnya fungsi saraf otak ini menyebabkan mekanisme metabolisme tubuh akan terhambat dan mengakibatkan sleep paralysis.

- Kurang tidur
Tidur cukup dalam rentang 8 jam sehari sangat berpengaruh terhadap kualitas masa depan hidup Anda. Tidur yang cukup akan memperbaiki sel dan metabolisme tubuh secara aktif. Siklus dan mekanisme tubuh yang berjalan aktif dan lancar akan mengurangi resiko terjadinya sleep paralysis.

Hal penting yang perlu dilakukan oleh seseorang yang tengah mengalami sleep paralysis ialah tarik nafas panjang dan dalam, lalu berusaha gerakkan tubuh untuk melawan kelumpuhan yang sedang terjadi. 

Selain itu, sleep  paralysis bisa dicegah dengan mengurangi begadang, meminimalisir terjadinya stress, mengatur posisi tidur yang nyaman, dan tak lupa berdoa sebelum tidur.

Baiknya, kondisi ini tak perlu terlalu dikhawatirkan. Setelah mekanisme tubuh kembali normal, tubuh akan segera membaik. Biasanya sleep paralysis hanya terjadi selama 2-3 menit. Setelah itu, tubuh akan kembali normal dan metabolisme organ akan kembali berjalan sesuai sistem semula.

 

Teks .  : Anisa
Editor : Arif




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook