Eksistensi Ulama Di Tengah Hiruk Pikuknya Dunia Politik


crew
06 Agu 2018, 11:49:37 WIB
Eksistensi Ulama Di Tengah Hiruk Pikuknya Dunia Politik

Berbicara seorang ulama  pasti yang terbesit di benak pikiran hampir seluruh orang yaitu sosok yang bisa berdakwah dan bisa memberikan nasihat serta pengajaran di tengah masyarakat luas. seiring berkembangnya zaman, pola pikir dan tanggapan masyarakat semakin maju dan berubah. Tak ayal, ulama sekarang merupakan sosok yang digandrungi oleh seluruh masyarakat, 
Antara ulama dan dunia perpolitikan merupakan dua hal yang tak kunjung selesai untuk dibahas. dunia perpolitikan pun sekarang sudah semakin maju dan berkembang pesat, mulai dari pejabat ibu kota sampai dengan pejabat tingkat daerah, sistem dan kebijaksanaan yang dijanjikan hingga realisasi nya, dan yang pasti sosok serta karakter pejabat – pejabat bahkan calon pejabat itu sendiri. 
 Pertanyaannya? Bagaimana eksistensi seorang ulama di tengah dunia perpolitikan sekarang ? dunia teknologi sekarang, tidak bisa lepas dari namanya media, dan media mungkin saja bisa mengaburkan esensi dari peristiwa yang terjadi di dunia politik tetapi nalar kritis publik, tak mungkin dibungkam dengan narasi irasional dan ganjil. Terlebih dalam sejarah kehidupan bangsa, ulama dan masyarakat ibarat dua sisi mata uang, tak bisa dipisahkan, apalagi dipertentangkan.
Politik tentu tidak bisa lepas dari masyarakat, 
Terkait relasi ulama dan masyarakat, menarik apa yang disampaikan oleh M Natsir dalam bukunya Capita Selecta.
“Bagi mereka (masyarakat), fatwa seorang alim yang mereka percayai berarti satu 'kata-keputusan' yang tak dapat dan tak perlu dibanding lagi. Sering kali telah terbukti, bagaimana susahnya bagi pemerintah negeri menjalankan satu urusan, bilamana tidak disetujui oleh alim-ulama di daerah yang bersangkutan. Sebaliknya pun begitu pula. 
Beruntunglah  bagi salah satu masyarakat, bila mempunyai seorang alim, sebagai pemimpin rohani yang tahu dan insaf akan tanggungannya sebagai penganjur dan penunjuk jalan. Aman dan makmurlah salah satu daerah bilamana pegawai-pegawai pemerintah di situ tahu menghargakan kedudukan alim ulama yang ada di daerah itu.”
Penjelasan M Natsir tampaknya sedang terjadi saat ini seiring dengan masifnya gerakan stigmatisasi terhadap Islam dan umat Islam, di mana tak mungkin ada “juru bicara” yang mampu menyampaikan perihal Islam secara komprehensif dalam segala sisi kehidupan, melainkan para ulama.
Terdapat  tiga nilai strategis mengapa kini sosok ulama secara terang-benderang direkomendasikan. Pertama, kapasitas intelektual. Ulama adalah sosok pembelajar, yang tak pernah bosan mengkaji dan mengamalkan ilmu, serta giat mengaktifkan majelis ilmu.
Ulama tak semata cerdas secara kognitif, tapi juga sangat cerdas secara emosional dan spiritual, sehingga kecerdasan intelektual yang dimiliki mampu mendorongnya berkiprah secara lebih baik, lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada diri, keluarga, kelompok, dan golongannya. Direkomendasikannya ulama dalam kontestasi politik 2019 merupakan sebuah harapan sekaligus jawaban untuk perubahan Indonesia.
KH Hasyim Muzadi dalam sebuah paparannya pada acara 90 tahun Gontor, pernah mengatakan, Indonesia ini tidak kurang orang pinter, yang kurang adalah orang bener. Ulama adalah sosok manusia yang tidak sekadar pintar tetapi juga benar.
Kedua, secara sosiologis, kesadaran umat Islam akan posisi strategis ulama dalam menyelamatkan kedaulatan NKRI mulai membaik, bahkan kesadaran itu dalam beberapa hal telah menjelma menjadi gerakan konkret di tengah-tengah kehidupan umat Islam sendiri.
kini para ulama tidak lagi sebatas menjadi pelengkap demokrasi tetapi telah berubah menjadi penentu warna dan arah demokrasi.
Peristiwa Aksi Super Damai 212 adalah bukti tak terbantahkan akan hal tersebut. Seperti kita ketahui bersama, gerakan ulama dalam 212 telah menjadikan negara mampu secara gagah berani menegakkan hukum secara adil atas pelaku penistaan agama yang dilakukan oleh pejabat negara di tengah situasi politik yang sangat “panas”.
Eksistensi ulama menjadi semakin disadari strategis di negeri ini seiring dengan berbagai peristiwa yang mendiskreditkan ulama, baik secara hukum maupun sosial. Publik telah dibuat sadar dengan beragam bentuk penyerangan dan kriminalisasi terhadap ulama.
Sudah waktunya, ulama ikut berperran aktif dalam menentukan arah politik umat. Sudah bukan zamannya lagi, ulama sebatas dikunjungi untuk dimintai dukungan. Itu telah berlalu. Masyarakat mulai sadar dan tampaknya akan benar-benar all out mendukung.
Ketiga, persatuan ulama. Sisi yang sangat menentukan dalam dinamika perpolitikan belakangan adalah bersatunya para ulama. Bersatunya ulama ini tentu menjadi satu modal besar akan kepercayaan masyarakat terhadap ulama dalam membenahi kehidupan bangsa dan negara.
Sebab, ulama yang direkomendasikan atau terjun di dalam ranah politik praktis bukanlah sosok yang maju atas kemauan sendiri, tetapi hasil musyawarah yang didukung oleh mayoritas ulama lainnya.
(Republika/Rzp)

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook