Bagaimana Otak Memproses Mimpi?


crew
04 Feb 2019, 16:42:07 WIB
Bagaimana Otak Memproses Mimpi?

Amperanews-- Sahabat, pernahkah Anda berpikir bagaimana mimpi bisa terjadi saat kita tidur?

Setiap orang tentu pernah mengalami mimpi dalam beberapa fase tidurnya. Dalam satu waktu, seseorang bisa mendapat lebih dari satu mimpi. Namun, tidak semua mimpi dapat diingat dalam memori. Sehingga ada orang-orang yan mampu mengingat mimpi meskipun telah bangun dari tidurnya, namun ada juga yang tak bisa mengingat samasekali. 

Seringkali, nenek moyang kita menghubung-hubungkan mimpi dengan kejadian mistis atau gambaran yang akan terjadi di masa depan. Meski belum terbukti secara ilmiah, namun keyakinan ini masih terus diyakini bahkan hingga masa kini. Namun, sebenarnya proses mimpi tidaklah sesederhana itu. Ada beberapa fase yang mesti dilewati hingga seseorang bisa mendapat gambaran mimpi dalam tidurnya.

Sebenarnya, yang terjadi saat seseorang bermimpi adalah perubahan gelombang sinyal pada otak. Ketika tidur, otak mengirimkan sinyal agar seluruh tubuh menjadi non aktif kecuali organ dalam yang berfungsi sebagai peranan tetap dalam sirkulasi metabolisme tubuh. Lalu,  aktivitas yang terekam dalam memori jangka pendek maupun jangka panjang akan memunculkan gambaran secara acak dalam korteks visual otak.

Ketika tidur, hampir seluruh manusia yang memiliki jam tidur normal sekitar 8 jam sehari akan mengalami 4 fase dalam tidurnya. Yang pertama ialah fase tidur ringan (N1), tidur sedang (N2), tidur dalam (N3), dan terakhir fase Rapid Eye Movement (REM) atau yang sering disebut sebagai fase tidur pulas. 

Mimpi paling sering terjadi saat seseorang mulai memasuki fase REM. Namun, tidak menutup kemungkinan mimpi bisa dialami juga dalam fase-fase sebelumnya. Biasanya, mimpi yang terjadi sebelum fase REM akan cenderung sederhana dan masih berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Sebaliknya, pada fase REM mimpi cenderung kompleks dan mengarah ke hal-hal yang bahkan belum pernah dipikirkan atau dialami oleh seseorang.

Bagian otak yang berperan saat mimpi ialah korteks depan sebagai pengatur logika dan penalaran, hippocampus sebagai pengatur memori, dan amigdala sebagai pengatur emosi. Seseorang dapat mengalami mimpi acak dalam sekali tidur karena saat tidur sinyal-sinyal dari bagian korteks depan menembak ke bagian memori secara bebas. Karena memori menjadi tak beraturan, maka tak heran hanya potongan-potongan kejadian tanpa kisah runut yang akan tampil dalam mimpi.

Selain ketiga bagian itu, menurut sebuah penelitian dari University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat, saat mimpi terjadi terdapat perubahan aktivitas gelombang secara signifikan yang naik dan turun pada suatu bagian otak.  Bagian ini dinamai posterior cortical hot zone, atau sering disebut zona panas. Zona ini terletak di belakang otak dan bertanggung jawab untuk mengolah informasi visual dan terlibat dalam proses pengintegrasian indera manusia.

Zona panas terhubung langsung ke korteks visual otak yang masih berfungsi aktif. Korteks visual otak bekerja untuk mendeskripsikan gambaran-gambaran visual yang terekam dalam setiap aktivitas dalam otak. Karenanya, seseorang bisa melihat kejadian-kejadian yang terjadi dalam mimpi meskipun saat itu mata kita tertutup dan dalam kondisi tak sadar.

Nah, begitulah proses mimpi bisa terjadi. Ternyata, cara otak bekerja lebih kompleks dari apa yang sering kita pikirkan. Selain berperan penting terhadap pengaturan seluruh aktivitas sehari-hari, saat kita dalam keadaan tak sadar atau tidur pun otak masih aktif bekerja. 

 

Teks.  : Anisa
Editor : Arif




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook